Ekonomi
Beranda » Berita » Harga Kedelai Impor Melonjak, Pedagang Tempe Sidoarjo Pangkas Ukuran dan Produksi Demi Bertahan

Harga Kedelai Impor Melonjak, Pedagang Tempe Sidoarjo Pangkas Ukuran dan Produksi Demi Bertahan

Audio Artikel Siap dibaca

Berita Delta, Sidoarjo – Kenaikan harga kedelai impor yang terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir mulai mencekik para pelaku usaha tahu dan tempe di Pasar Baru Porong, Sidoarjo. Dengan harga bahan baku yang kini mencapai Rp 11.100 per kilogram, para pedagang terpaksa memutar otak agar tetap bisa bertahan di tengah persaingan pasar dan daya beli konsumen yang fluktuatif.

Salah satu pedagang tempe, Jalal (24), yang berasal dari Jabon, mengungkapkan strategi yang ia pilih. Ia memutuskan tidak menaikkan harga jual tempe meskipun keuntungan yang didapat menjadi sangat tipis. Sebagai gantinya, Jalal mengurangi ukuran atau takaran tempe yang dijualnya.

Menurut Jalal, langkah ini diambil untuk menjaga agar harga tempe tetap terjangkau bagi konsumen. “Kalau harga dinaikkan takut pembeli pindah ke penjual lain. Jadi harganya tetap, tapi ukuran tempe kami kurangi. Keuntungannya sangat tipis,” ujarnya saat ditemui di Pasar Baru Porong pada Sabtu (19/9/2026).

Kondisi serupa juga dialami oleh Luqman (51), pedagang tempe lainnya. Ia menjelaskan bahwa produksi tempe hariannya sangat bergantung pada pasokan kedelai impor. Sejak awal Agustus, harga kedelai impor mengalami kenaikan bertahap, sekitar Rp 100 per kilogram hampir setiap hari.

Luqman merinci, “Harga kedelai sejak awal Agustus naik setiap hari kisaran Rp 100 per kilogram. Dari Rp 10.100 sekarang menjadi Rp 11.100.” Kenaikan ini tentu saja membuat biaya produksi membengkak.

Akibat kenaikan harga bahan baku ini, Luqman terpaksa mengurangi jumlah produksinya. Jika sebelumnya ia mampu mengolah sekitar satu kuintal (100 kilogram) kedelai impor setiap hari, kini ia hanya memproduksi tempe dari sekitar 70 hingga 80 kilogram kedelai.

“Ditambah penjualan sepi, kami terpaksa mengurangi produksi karena sering tidak habis dijual,” keluhnya.

Luqman menambahkan, kenaikan harga kedelai tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga secara langsung memengaruhi daya beli konsumen. Sebagian pelanggan mulai mempertimbangkan untuk membeli lauk lain, seperti ayam, yang pada akhirnya memperlambat perputaran dagang tahu dan tempe.

Situasi ini menyoroti bagaimana fluktuasi harga komoditas global dapat memberikan tekanan signifikan pada usaha mikro dan kecil di tingkat lokal, memaksa mereka untuk beradaptasi dengan cara yang sulit demi menjaga kelangsungan bisnis dan loyalitas pelanggan.(*)

📰 Reporter: Sabaruddin

©2026 BeritaDelta.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Populer bulan ini

Loading data

Pilihan redaksi

Loading data
Loading data
👁️ 0 Users Online
🔴 LIVE MATCH TRAFFIC
Source: Real Time (GA4)
Dapatkan notifikasi berita terbaru!

Berlangganan Berita

Izinkan kami mengirimkan notifikasi agar Anda selalu update dengan berita terbaru.