Berita Delta, Kawasan Mediterania Timur – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis laporan situasi terkini untuk bulan Agustus 2026, menyoroti berbagai krisis kesehatan yang masih melanda Kawasan Mediterania Timur. Laporan ini mengungkap dampak konflik, perpindahan penduduk, dan wabah penyakit yang terus membebani sistem kesehatan di beberapa negara, meskipun ada kabar baik dari Afghanistan yang menunjukkan penurunan signifikan dalam beberapa kasus penyakit.
PDF: Health-emergencies-situation-report-3-August2026
Dampak Eskalasi Konflik di Yaman dan Wilayah Lain
Di Yaman, eskalasi konflik yang dimulai sejak 6 Agustus telah memicu korban massal di sejumlah provinsi. Antara 6 Agustus hingga 18 September, Kementerian Kesehatan dan Populasi mencatat total 3.672 korban jiwa, terdiri dari 674 kematian dan 2.998 luka-luka. Sebanyak 680 korban di antaranya tercatat hanya dalam periode 13 hingga 18 September. Gelombang masuknya korban ini melampaui kapasitas stabilisasi dan bedah lokal.
Selain itu, lebih dari 130.000 orang menjadi pengungsi internal di delapan provinsi Yaman akibat permusuhan. Eskalasi ini juga menyebabkan perpindahan lintas batas, dengan tambahan 3.500 orang tiba di Obock, Djibouti.
Situasi serupa terjadi di wilayah pendudukan Palestina (oPt), di mana lebih dari separuh fasilitas kesehatan di Gaza masih berfungsi sebagian, dan 47% obat-obatan esensial dilaporkan kehabisan stok. Sementara itu, di Lebanon, 334.353 orang masih berstatus pengungsi internal per 26 Agustus, dengan tiga rumah sakit dan 22 pusat layanan kesehatan primer tetap ditutup.
Tekanan Sistem Kesehatan dan Wabah Penyakit di Sudan
Di Sudan, konflik, perpindahan penduduk, dan wabah penyakit terus memberikan tekanan berat pada sistem kesehatan. Pemotongan dana telah mempengaruhi 335 fasilitas kesehatan di 13 negara bagian, dengan 153 di antaranya ditangguhkan dan 182 beroperasi dengan kapasitas terbatas.
Wabah kolera tetap menjadi perhatian utama, dengan 2.730 kasus dan 246 kematian dilaporkan hingga 31 Agustus. Selain itu, penularan demam berdarah dengue terus berlanjut di 15 negara bagian.
Tren Penurunan Penyakit di Afghanistan dan Tantangan di Negara Lain
Meskipun berbagai wabah penyakit masih aktif di kawasan ini, beberapa negara melaporkan tren penurunan. Di Afghanistan, kasus diare akut dengan air (AWD) menurun sebesar 23,6% dibandingkan Juli, kasus campak yang dicurigai turun 44,5%, demam berdarah dengue turun 41,0%, dan CCHF (Crimean-Congo Hemorrhagic Fever) turun 36,8%.
Di Somalia, kasus campak, difteri, dan demam berdarah dengue tetap aktif namun menunjukkan penurunan dalam beberapa minggu pelaporan terakhir. Sementara itu, di Irak, kasus CCHF menurun 44% dibandingkan Juli, meski kasus campak yang terkonfirmasi justru meningkat dari 29 menjadi 42.
Kerawanan Pangan dan Malnutrisi Anak yang Mengkhawatirkan
Kerawanan pangan dan malnutrisi tetap menjadi masalah kesehatan utama, terutama di Somalia, Yaman, dan Sudan. Di Somalia, diperkirakan 1,88 juta anak di bawah lima tahun mengalami malnutrisi akut, termasuk 493.000 anak dengan malnutrisi akut parah.
Di Yaman, sekitar 2,2 juta anak diperkirakan menderita malnutrisi akut, dengan 520.000 di antaranya mengalami malnutrisi akut parah. Angka-angka ini menggarisbawahi urgensi intervensi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Pergerakan Penduduk Meningkatkan Kebutuhan Layanan Kesehatan
Pergerakan penduduk terus meningkatkan permintaan akan layanan kesehatan. Afghanistan mencatat 109.305 pengungsi yang kembali selama Agustus, sehingga total sejak Januari mencapai 1.186.755 orang. Di Sudan, perpindahan dari Kordofan Utara dan Barat meningkatkan tekanan pada layanan di El Obeid, sementara kembalinya penduduk ke Khartoum dan Al Jazirah meningkatkan permintaan akan layanan kesehatan yang telah dipulihkan.(*)
📰 Reporter: Moh Junaedi Rizki
©2026 BeritaDelta.id




Komentar