Berita Delta, Sidoarjo – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menunjukkan inovasinya dengan mengembangkan Sidoarjo Disaster Assessment AI (SIDA-AI). Sistem canggih ini dirancang khusus untuk memitigasi risiko jebolnya tanggul lumpur Sidoarjo, menggabungkan kekuatan citra dari Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone dengan sensor-sensor Internet of Things (IoT).
Pengembangan SIDA-AI menjadi respons terhadap kondisi tanggul lumpur Sidoarjo yang masih menghadapi berbagai ancaman serius. Menurut Kurnia Cahya Febryanto, ketua tim pengembang SIDA-AI, Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) mencatat adanya penurunan muka tanah yang signifikan, mencapai 0,5 meter setiap tahunnya. Kurnia menambahkan, “Laju penurunan tanah sepanjang tanggul 11 kilometer bervariasi antara 20 sampai 50 sentimeter per tahun,” ujarnya pada Selasa, 22 September 2026. Situasi ini diperparah dengan penyempitan kapasitas alir Kali Porong akibat sedimentasi sungai, yang secara langsung meningkatkan potensi gangguan pada sistem pengendalian lumpur.
Keterbatasan Inspeksi Konvensional dan Solusi SIDA-AI
Inspeksi berkala yang selama ini dilakukan memiliki keterbatasan dalam mendeteksi perubahan kondisi yang berlangsung secara perlahan. Kurnia menjelaskan, kondisi seperti menipisnya jarak bebas (freeboard), muka air normal, dan prakiraan hujan lebat berpotensi luput dari pantauan manual. “Gabungan dari kondisi-kondisi tersebut membuatnya semakin berbahaya,” tegas mahasiswa doktoral Departemen Teknik Informatika ITS tersebut. Kondisi inilah yang menjadi dasar kuat bagi ITS untuk mengembangkan SIDA-AI dengan pendekatan agentic artificial intelligence (AI).
Sistem SIDA-AI dirancang untuk memadukan citra UAV, data dari sensor IoT, serta informasi prakiraan cuaca guna melakukan pemantauan kondisi tanggul secara real-time. Kurnia menjelaskan, “Dengan mengintegrasikan berbagai sumber data, SIDA-AI menghubungkannya dengan faktor lingkungan yang memengaruhi tingkat risiko.” Pendekatan ini memungkinkan identifikasi dini terhadap potensi masalah yang mungkin tidak terdeteksi oleh metode konvensional.
Arsitektur Dua Lapis SIDA-AI untuk Analisis Komprehensif
Irfan Mirda, pengembang perangkat keras SIDA-AI, menjelaskan bahwa sistem ini dibangun dengan arsitektur dua lapis yang saling terintegrasi:
1. Lapisan Persepsi (Perception Layer)
Lapisan pertama ini terdiri dari sejumlah model deterministik yang bertugas mengolah data pengamatan. Data tersebut digunakan untuk mendeteksi kondisi fisik tanggul berdasarkan citra UAV, mencakup identifikasi retakan, rembesan, dan tingkat saturasi. Selain itu, lapisan persepsi juga menghitung indikator penting lainnya seperti sisa freeboard dan laju penurunan tanah menggunakan metode DEM differencing. Irfan menambahkan, “Sensor IoT digunakan untuk memantau muka air dan pendangkalan Kali Porong secara real-time.”
2. Lapisan Agentic AI (Agentic AI Layer)
Data yang telah diolah oleh lapisan persepsi kemudian diproses lebih lanjut oleh lapisan kedua ini. Lapisan agentic AI mengorkestrasi seluruh indikator yang telah diperoleh sebelumnya. Dengan memanfaatkan model bahasa besar (large language models), sistem ini mampu menilai tingkat risiko pada setiap segmen tanggul. Lebih lanjut, SIDA-AI juga menyusun rekomendasi tindakan penanganan yang spesifik berdasarkan kondisi yang teridentifikasi. Irfan menuturkan bahwa setiap rekomendasi tersebut ditambatkan pada prosedur penanganan standar PPLS melalui pendekatan Retrieval-Augmented Generation (RAG), memastikan bahwa setiap saran memiliki landasan prosedural yang kuat dan sesuai standar operasional.
Dengan SIDA-AI, ITS berharap dapat memberikan kontribusi signifikan dalam upaya mitigasi bencana dan menjaga keamanan masyarakat Sidoarjo dari ancaman jebolnya tanggul lumpur, melalui pemanfaatan teknologi cerdas yang proaktif dan prediktif.(*)
📰 Reporter: Sabaruddin
©2026 BeritaDelta.id




Komentar