Berita Delta, Sidoarjo – Proyek vital pembangunan Jembatan Candinegoro di Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, kini tengah menjadi sorotan tajam. Pasalnya, proyek senilai Rp1,4 miliar ini mengalami deviasi atau penyimpangan progres hingga 9 persen dari jadwal yang direncanakan. Kondisi ini sontak membuat Bupati Sidoarjo, Subandi, turun tangan langsung meninjau lokasi pada Selasa, 6 Oktober 2026, dengan raut serius.
Jembatan yang dikerjakan oleh CV Ardhi Bila ini sejatinya sudah dimulai sejak 28 Juli 2026 dan ditargetkan rampung pada 16 Desember 2026. Namun, dengan sisa waktu yang kian menipis, Bupati Subandi mendesak kontraktor untuk segera menggenjot ritme kerja agar ketertinggalan progres bisa dikejar.
“Tadi PPK menyampaikan deviasinya 9 persen. Saya sarankan, karena ini proyek jembatan, untuk mengejar ketertinggalan 9 persen itu minimal harus diberlakukan dua shift,” tegas Subandi, memberikan instruksi langsung di lokasi proyek.
Menurut Subandi, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) telah memastikan ketersediaan material dan tenaga kerja yang memadai. Oleh karena itu, ia meminta kontraktor untuk fokus penuh pada eksekusi di lapangan tanpa mencari-cari alasan. Bupati juga tak segan menyentil kendala yang disebut-sebut karena kondisi air. Baginya, persoalan seperti itu seharusnya sudah diperhitungkan matang sejak fase perencanaan awal.
“Alasannya karena air? Itu tidak bisa diterima. Sebelum pekerjaan dimulai, semua sudah melalui tahap perencanaan,” tukasnya dengan nada tegas.
Pengawasan Diperketat, Kualitas Tak Boleh Kompromi
Tak hanya mendesak kontraktor, Subandi juga meminta PPK dan konsultan pengawas untuk meningkatkan intensitas pengawasan. Ia menekankan pentingnya pemeriksaan rutin di lapangan untuk segera mengidentifikasi akar masalah setiap deviasi dan memastikan tindak lanjut yang cepat.
“Jika ada deviasi, segera panggil ke kantor. Cari tahu kekurangannya apa, lalu tindak lanjuti agar pelaksanaan bisa tepat waktu,” perintahnya.
Subandi mengingatkan bahwa percepatan proyek tidak boleh hanya berorientasi pada pengejaran waktu semata. Kualitas pekerjaan harus tetap menjadi prioritas utama hingga proyek benar-benar rampung. “Jika semua ini terpenuhi, saya yakin kegiatan akan selesai tepat waktu dengan kualitas yang bagus. Ini harapan kita semua,” imbuhnya.
Kontraktor Ungkap Tantangan dan Strategi Pemulihan
Ahmad Amrizal Hakim, kontraktor pelaksana dari CV Ardhi Bila, tak menampik adanya kendala. Ia menjelaskan, salah satu tantangan terbesar muncul pada tahap pemancangan. Peralatan awal yang digunakan ternyata tidak mampu menancapkan tiang pancang dengan optimal, sehingga mereka terpaksa mendatangkan alat berkapasitas lebih besar.
Selain itu, kondisi tanah di lokasi yang didominasi pasir juga menjadi penghambat serius dalam proses pemancangan. Untuk mengejar progres, Amrizal menyebut pihaknya telah mengambil langkah konkret, termasuk mempercepat pekerjaan abutment dan menambah jumlah pekerja secara signifikan.
“Jumlah pekerja kami tambah dari delapan menjadi 18 orang. Kami juga menerapkan sistem dua shift, bahkan sering lembur hingga dini hari,” jelas Rizal. “Kemarin kami lembur sampai jam empat subuh. Tim baru untuk shift malam akan kami datangkan lagi nanti sore.”
Rizal menambahkan, pekerjaan konstruksi baja juga turut memengaruhi perhitungan progres. Karena bobotnya yang besar, proses produksinya harus dilakukan terlebih dahulu di gudang sebelum material diangkut ke lokasi proyek.
Optimisme Mengejar Ketertinggalan dalam Dua Minggu
Dengan penambahan tenaga kerja dan penerapan sistem dua shift, kontraktor optimistis dapat mengejar ketertinggalan progres pembangunan Jembatan Candinegoro. Rizal memperkirakan, langkah-langkah ini akan membantu memulihkan progres dalam waktu sekitar dua minggu. Ia juga yakin, setelah memasuki tahap erection atau pemasangan konstruksi, pekerjaan akan berlangsung jauh lebih cepat.
©2026 BeritaDelta.id




Komentar