Berita Delta, Sidoarjo – Upaya mengubah stigma negatif game online menjadi potensi prestasi dan ekonomi kreatif terus dimatangkan di Kabupaten Sidoarjo.
Komunitas game online yang tergabung dalam YESPA, ESI (Esports Indonesia) dan AFCI beraudiensi dengan Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana di rumah dinas wabup , Selasa (14/10).
Audiensi tersebut difasilitasi oleh Anggota DPRD Sidoarjo Komisi D, Zahlul Yusar, yang juga merupakan pembina game online Sidoarjo. Turut hadir tokoh komunitas dan sejumlah pegiat e-sport.
Sidoarjo Butuh Game Centre
Zahlul Yusar menjelaskan, Sidoarjo memiliki potensi e-sport yang sangat besar. Ribuan anak muda aktif sebagai pemain, namun belum memiliki wadah pembinaan yang layak.
“Selama ini even ada, pemain berbakat ada, tapi tempatnya belum ada. Sidoarjo butuh Game Centre sebagai pusat pembinaan,” ujar anggota Komisi D yang membidangi pendidikan dan kepemudaan itu.
Konsep Game Centre yang diusulkan bukan sekadar tempat bermain game. Melainkan pusat pembinaan atlet e-sport yang lengkap.
Di dalamnya akan disiapkan fasilitas WiFi dengan koneksi stabil dan cepat hasil kolaborasi dengan provider, ruang latihan, ruang taktik, hingga coaching clinic dengan pelatih profesional.
Dengan fasilitas tersebut, pembinaan bisa dilakukan secara berjenjang, mulai dari pembinaan karakter, kedisiplinan, kerjasama tim, hingga manajemen menjadi atlet profesional.
Ubah Paradigma Negatif dan Masuk Sekolah
Tujuan utama dari gerakan ini adalah merubah paradigma masyarakat yang selama ini menganggap game selalu berdampak negatif.
“Kami ingin merubah paradigma, game itu tidak melulu negatif. Kalau dibina, diarahkan dengan benar, ini bisa jadi prestasi, bisa jadi profesi, dan masuk dalam industri ekonomi kreatif,” tegas Zahlul Yusar.
Arip Toko komunitas juga mendorong agar e-sport bisa masuk ke dunia pendidikan. Tidak sebagai game bebas, melainkan sebagai mata pelajaran ekstrakurikuler atau pembinaan masuk sekolah (goes to school).
Di sekolah, siswa akan dikenalkan e-sport sebagai cabang olahraga prestasi yang membutuhkan strategi, logika, kecepatan berpikir, dan kekompakan tim, bukan sekadar hobi.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan nasional dimana e-sport telah diakui KONI dan dipertandingkan di ajang resmi seperti PON, SEA Games, hingga Asian Games.
Minta Wabup Mimik Jadi Pembina
Dalam pertemuan itu, komunitas secara resmi meminta Wabup Mimik Idayana untuk bersedia menjadi pembina game online / e-sport Sidoarjo.
Sosok Mimik dinilai memiliki kedekatan dengan generasi muda dan komitmen kuat terhadap pembinaan pemuda.
Wabup Mimik menyambut positif dan menyatakan siap mendukung. Menurutnya, pendekatan pelarangan terhadap game online sudah tidak relevan. Yang dibutuhkan adalah pembinaan yang terarah.
“Anak-anak kita hidup di era digital, tidak mungkin kita jauhkan dari game. Tugas kita adalah membina agar menjadi positif. Kalau ada Game Centre, ada pelatih, ada even resmi, energinya tersalurkan untuk prestasi. Ini sangat bagus untuk Sidoarjo,” ujar Wabup Mimik.
Dukungan Pemkab Sidoarjo terhadap pengembangan e-sport ini diharapkan menjadi terobosan baru dalam pembinaan kepemudaan. Tidak hanya melahirkan atlet berprestasi yang mengharumkan nama Sidoarjo, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di sektor ekonomi digital.
Dengan sinergi antara DPRD Komisi D, komunitas YESPA-ESI-AFCI, dukungan provider, dan pembinaan dari Wabup Mimik, Sidoarjo optimistis mampu menjadi pusat e-sport terbaik dan mengubah game online dari sekadar permainan menjadi kebanggaan daerah.
©2026 BeritaDelta.id




Komentar