Berita Delta, Surabaya – Seorang pengemudi ojek online (ojol) di Surabaya, berinisial YGL (30), mengungkapkan pengalaman pahitnya menjadi korban pelecehan seksual verbal dan rasisme yang diduga dilakukan oleh sekelompok juru parkir (jukir) di beberapa lokasi penjemputan pesanan.
Insiden yang telah berlangsung lebih dari setahun ini tak hanya meninggalkan trauma mendalam, namun juga berdampak serius pada kondisi psikologis korban. Laporan terkait kasus ini telah disampaikan kepada Rumah Aspirasi Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, dengan harapan adanya tindak lanjut konkret.
Pengakuan Korban: Pelecehan Verbal hingga Paksaan
YGL menceritakan bahwa selama lebih dari satu tahun terakhir, setiap kali ia mengambil pesanan makanan pelanggan di titik-titik tertentu, ia selalu menjadi sasaran pelecehan. “Setiap kali saya ambil orderan di sana selalu disoraki suruh lepas celana saya, disuruh nunjukkan alat kelamin saya,” ungkap YGL pada Selasa (18/8/2026).
Pelecehan tersebut tidak hanya sebatas verbal. YGL mengaku pernah suatu kali dipaksa untuk menurunkan celananya oleh para jukir di lokasi tersebut. “Sampai akhirnya saya turunkan (celana), malahan mereka enggak berhenti,” tambahnya, menunjukkan betapa parahnya tindakan para terduga pelaku.
Selain pelecehan seksual, YGL yang merupakan warga keturunan Tionghoa juga beberapa kali menerima perlakuan rasisme dari kelompok jukir yang sama. Ia berusaha melawan dengan meneriaki balik para jukir. “Saya teriak ‘diam kamu, tak laporkan polisi loh ya’. Kadang begitu mereka langsung diam,” jelasnya, meskipun tindakan tersebut tidak selalu menghentikan pelecehan.
Dampak Psikologis dan Upaya Menghindar
Untuk menghindari insiden serupa, YGL telah mencoba untuk tidak mengambil orderan di beberapa lokasi yang menjadi titik pelecehan. Namun, di saat orderan sepi, ia terpaksa kembali mengambil pesanan di tempat-tempat tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa kadang ada orang yang membela dirinya, namun seringkali ia harus menghadapi situasi itu sendirian.
Dampak dari pelecehan berulang ini sangat terasa pada kondisi psikologis YGL. Ibunya, Ong Sioe Djing, mengungkapkan kekhawatirannya. “Seringkali sewaktu pulang dia marah-marah, hantam benda-benda sampai tetangga sebelah itu dengar, katanya disuruh bawa ke Rumah Sakit Jiwa. Padahal ya enggak gila, cuma dampak psikologis itu,” terang Sioe Djing, menggambarkan betapa trauma telah memengaruhi putranya.
Harapan Keluarga dan Respons Wakil Wali Kota
Setelah melaporkan kasus ini ke Rumah Aspirasi, Ong Sioe Djing berharap Wakil Wali Kota Armuji dapat menindaklanjuti para jukir terduga pelaku pelecehan. Ia tidak meminta para jukir tersebut dipecat karena khawatir akan adanya pembalasan. “Saya enggak minta mereka (jukir) dipecat, malahan saya takut kalau dipecat nanti kita yang dibacok. Seenggaknya mereka ditegur yang pantas sehingga enggak mengulangi lagi,” pungkasnya, menunjukkan harapan akan solusi yang adil dan aman.
Menanggapi laporan tersebut, Wakil Wali Kota Armuji berjanji akan segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi-lokasi yang disebutkan untuk memastikan kebenaran dan menindaklanjuti kasus pelecehan ini.
📰 Reporter: Moh Junaedi Rizki
©2026 BeritaDelta.id




Komentar