SURABAYA, Beritadelta. id – Temuan sebanyak 22 calon pengantin di Kabupaten Sidoarjo yang dinyatakan positif HIV memicu perhatian serius dari kalangan legislatif Jawa Timur. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal penting bahwa penguatan edukasi kesehatan reproduksi serta deteksi dini penyakit menular harus semakin diperketat, khususnya bagi masyarakat usia produktif.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, menilai kasus tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa atau hanya terjadi di satu wilayah tertentu. Ia menyebut temuan itu sebagai alarm penting yang menandakan perlunya langkah pencegahan lebih serius di berbagai daerah lain di Jawa Timur.
Menurut Cahyo, pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan seharusnya dipahami bukan sekadar bagian dari persyaratan administratif menuju pernikahan. Lebih dari itu, pemeriksaan pranikah menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mengetahui kondisi kesehatan calon pasangan sekaligus upaya melindungi kualitas keluarga yang akan dibangun ke depan.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah perlu meningkatkan strategi promotif dan preventif melalui program skrining kesehatan yang lebih masif, konseling kesehatan reproduksi, serta edukasi pola hidup sehat secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, sinergi lintas sektor menjadi faktor utama agar upaya pencegahan bisa berjalan efektif di tengah masyarakat.
“Deteksi dini menjadi langkah penting. Edukasi tentang kesehatan reproduksi harus diperluas agar masyarakat memiliki pemahaman yang baik sejak usia muda,” ujarnya, Rabu (24/6/2026).
Selain fokus pada upaya pencegahan, Cahyo juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap masyarakat yang telah terdeteksi positif HIV. Menurutnya, akses layanan kesehatan, pendampingan medis, serta dukungan sosial harus diberikan secara maksimal agar para penyintas tetap dapat menjalani kehidupan dengan baik tanpa diskriminasi sosial.
Sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Kota Surabaya, Cahyo menegaskan bahwa persoalan HIV tidak semata-mata berkaitan dengan aspek medis, melainkan juga menyangkut edukasi publik dan kesiapan sosial dalam menghapus stigma negatif terhadap penyintas.
Ia menambahkan, keberhasilan menekan angka penyebaran HIV di Jawa Timur sangat bergantung pada tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan sejak dini. Literasi kesehatan yang kuat, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi yang sehat sekaligus membangun keluarga yang berkualitas di masa mendatang.
Pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan diharapkan mampu memperkuat langkah pencegahan secara konsisten. Sebab, upaya pencegahan yang dilakukan sejak awal dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika persoalan kesehatan sudah berkembang lebih luas di masyarakat.(*)
📝 Penulis: Moh Junaedi Rizki
©2026 BeritaDelta.id




Komentar